Sriwijaya, kedatuan di tepi Musi
Di kaki Bukit Siguntang berdiri pusat kedatuan maritim yang menguasai Selat Malaka dan menjadi tempat belajar para biksu dari Tiongkok hingga India.
-
682 M
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini mencatat perjalanan Dapunta Hyang Sri Jayanasa bersama dua puluh ribu bala tentara dan pendirian sebuah wanua, permukiman baru. Tanggalnya, 17 Juni 682, ditetapkan sebagai hari jadi Kota Palembang โ kota tertua di Indonesia.
-
23 Maret 684 M
Prasasti Talang Tuwo
Dapunta Hyang membangun Taman Sriksetra "untuk kesejahteraan semua makhluk". Prasasti yang ditemukan di kaki Bukit Siguntang ini memuat doa-doa Buddhis dan nama-nama tanaman yang ditanam di taman itu.
-
671 โ 695 M
I-Tsing singgah
Biksu Tiongkok Yijing (I-Tsing) tinggal di Sriwijaya dalam perjalanan ke dan dari India. Ia mencatat lebih dari seribu biksu belajar di sini dan menganjurkan biksu Tiongkok singgah dulu untuk memperdalam bahasa Sanskerta.
-
Abad ke-9 โ ke-10
Penguasa Selat Malaka
Sriwijaya menguasai lalu lintas perdagangan Selat Malaka dan Selat Sunda. Utusannya rutin dikirim ke istana Tiongkok, dan pedagang Arab menyebut rajanya "Maharaja Zabag".
-
1025
Serangan Chola
Armada Rajendra Chola I dari India Selatan menyerbu pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Kedatuan tidak runtuh seketika, tetapi pamornya tak pernah pulih dan pusatnya kemudian bergeser ke Jambi.