Tentang Palembang

Dari Bukit Siguntang
ke kota tertua.

Tiga belas abad lalu sebuah prasasti di tepi Musi mencatat lahirnya kota ini. Hari ini ia menjadi kota pempek dan songket, kota jembatan dan sungai, dan kota tertua di Indonesia yang masih terus tumbuh. Inilah perjalanannya โ€” dari Sriwijaya sampai sekarang.

17 Jun 682Hari jadi kota
ยฑ400 kmยฒLuas wilayah kota
ยฑ1,67 jutaPenduduk (SP 2020)
Foto utama Kota Palembang

Letak dan bentuk

Sebuah kota di atas sungai.

Palembang terhampar di dataran rendah di kedua tepi Sungai Musi, sekitar seratus kilometer dari muaranya di Selat Bangka. Musi membelah kota menjadi Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan, dan anak-anak sungainya โ€” Ogan, Komering, Sekanak, Lambidaro โ€” bermuara di dalam batas kota.

Sungai itulah yang melahirkan kotanya. Sriwijaya tumbuh sebagai kedatuan pelabuhan, kesultanan membangun keratonnya menghadap Musi, dan sampai awal abad ke-20 rumah rakit serta perahu masih menjadi cara utama berpindah, hingga kota ini dijuluki "Venesia dari Timur". Hari ini jembatan-jembatan menggantikan getek, tetapi Musi tetap poros yang menata Palembang.

Linimasa

Tujuh babak
sejarah Palembang.

Disusun dari portal resmi Pemerintah Kota Palembang, prasasti-prasasti Sriwijaya, dan catatan Kesultanan Palembang Darussalam. Tanggal yang masih diperdebatkan ditulis apa adanya.

01 Abad ke-7 โ€“ ke-11

Sriwijaya, kedatuan di tepi Musi

Di kaki Bukit Siguntang berdiri pusat kedatuan maritim yang menguasai Selat Malaka dan menjadi tempat belajar para biksu dari Tiongkok hingga India.

  1. 682 M

    Prasasti Kedukan Bukit

    Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini mencatat perjalanan Dapunta Hyang Sri Jayanasa bersama dua puluh ribu bala tentara dan pendirian sebuah wanua, permukiman baru. Tanggalnya, 17 Juni 682, ditetapkan sebagai hari jadi Kota Palembang โ€” kota tertua di Indonesia.

  2. 23 Maret 684 M

    Prasasti Talang Tuwo

    Dapunta Hyang membangun Taman Sriksetra "untuk kesejahteraan semua makhluk". Prasasti yang ditemukan di kaki Bukit Siguntang ini memuat doa-doa Buddhis dan nama-nama tanaman yang ditanam di taman itu.

  3. 671 โ€“ 695 M

    I-Tsing singgah

    Biksu Tiongkok Yijing (I-Tsing) tinggal di Sriwijaya dalam perjalanan ke dan dari India. Ia mencatat lebih dari seribu biksu belajar di sini dan menganjurkan biksu Tiongkok singgah dulu untuk memperdalam bahasa Sanskerta.

  4. Abad ke-9 โ€“ ke-10

    Penguasa Selat Malaka

    Sriwijaya menguasai lalu lintas perdagangan Selat Malaka dan Selat Sunda. Utusannya rutin dikirim ke istana Tiongkok, dan pedagang Arab menyebut rajanya "Maharaja Zabag".

  5. 1025

    Serangan Chola

    Armada Rajendra Chola I dari India Selatan menyerbu pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Kedatuan tidak runtuh seketika, tetapi pamornya tak pernah pulih dan pusatnya kemudian bergeser ke Jambi.

Bukit Siguntang atau Prasasti Kedukan Bukit
Bukit Siguntang, tempat tertinggi di kota dan situs suci sejak masa Sriwijaya.
02 Abad ke-14 โ€“ ke-16

Antara Majapahit dan Tiongkok

Setelah Sriwijaya surut, Palembang menjadi pelabuhan yang diperebutkan: disebut dalam kitab Majapahit, disinggahi armada Cheng Ho, dan diperintah seorang adipati yang mengasuh calon raja Demak.

  1. 1365

    Disebut dalam Nagarakretagama

    Kakawin karya Mpu Prapanca mencantumkan Palembang di antara wilayah yang berada di bawah pengaruh Majapahit.

  2. Akhir abad ke-14

    Parameswara meninggalkan Palembang

    Parameswara, pangeran Palembang keturunan Sriwijaya, berlayar ke Temasek dan kemudian mendirikan Malaka โ€” pelabuhan yang mewarisi peran Sriwijaya di Selat Malaka.

  3. 1407

    Cheng Ho di Palembang

    Armada Laksamana Cheng Ho mengalahkan Chen Zuyi, pemimpin bajak laut yang menguasai kota. Shi Jinqing lalu diangkat sebagai kepala masyarakat Tionghoa Palembang โ€” awal komunitas yang jejaknya masih tampak di Kampung Kapitan dan Pulau Kemaro.

  4. Pertengahan abad ke-15

    Ario Damar

    Ario Damar, yang juga dikenal sebagai Ario Dillah, memerintah Palembang sebagai adipati Majapahit. Di sini ia mengasuh Raden Patah, yang kelak mendirikan Kesultanan Demak.

  5. Abad ke-16

    Islam dan Keraton Kuto Gawang

    Ki Gede Ing Suro, bangsawan pelarian dari Demak, membangun keraton di Kuto Gawang di tepi Musi. Di sekitarnya tumbuh kerajaan Palembang yang bercorak Islam.

Pulau Kemaro atau Kampung Kapitan
Pulau Kemaro, jejak panjang masyarakat Tionghoa di Sungai Musi.
03 1659 โ€“ 1823

Kesultanan Palembang Darussalam

Setelah Kuto Gawang dibakar VOC, kota dibangun ulang di sisi ilir Musi. Dari keraton barunya, para sultan mendirikan masjid agung dan benteng batu yang sampai hari ini menjadi wajah kota.

  1. 1659

    Kuto Gawang dibakar VOC

    Armada VOC membumihanguskan keraton Kuto Gawang. Ki Mas Hindi memindahkan pusat pemerintahan ke Beringin Janggut, lalu memakai gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Iman. Sejak itu negeri ini bernama Kesultanan Palembang Darussalam.

  2. 1738 โ€“ 1748

    Masjid Agung Palembang

    Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo membangun Masjid Agung di sebelah keraton. Atapnya bertingkat dengan jurai melengkung khas Palembang, memadukan gaya Nusantara, Tiongkok, dan Eropa.

  3. 1780 โ€“ 1797

    Benteng Kuto Besak

    Benteng batu ini mulai dibangun pada masa Sultan Muhammad Bahauddin dan mulai dihuni pada 1797. Ia satu-satunya keraton di Indonesia yang berupa benteng, dan dibangun tanpa campur tangan Eropa.

  4. 1811 โ€“ 1812

    Sultan Mahmud Badaruddin II melawan Eropa

    Sultan menutup loji Belanda di Sungai Alur, lalu menghadapi ekspedisi Inggris yang merebut kota pada 1812 dan menaikkan adiknya, Ahmad Najamuddin II, ke takhta.

  5. 1819

    Perang Menteng

    Dua kali dalam setahun pasukan Belanda pimpinan Herman Warner Muntinghe โ€” orang Palembang menyebutnya "Menteng" โ€” dipukul mundur dari depan Benteng Kuto Besak.

  6. 1821 โ€“ 1823

    Akhir kesultanan

    Ekspedisi ketiga Belanda di bawah Jenderal de Kock menaklukkan Palembang pada Juni 1821. Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Ternate, dan pada 7 Oktober 1823 Belanda menghapus kesultanan.

Benteng Kuto Besak dilihat dari Sungai Musi
Benteng Kuto Besak, keraton terakhir Kesultanan Palembang Darussalam.
04 1825 โ€“ 1942

Kota residen, minyak, dan rumah limas

Di bawah Belanda, Palembang menjadi ibu kota keresidenan, lalu kota praja. Kilang minyak di Plaju dan Sungai Gerong mengubahnya menjadi salah satu kota industri terpenting di Hindia Belanda.

  1. 1825

    Keresidenan Palembang

    Bekas wilayah kesultanan ditata menjadi Keresidenan Palembang. Keraton Kuto Tengkuruk diratakan dan di atasnya dibangun rumah residen โ€” kini Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

  2. Abad ke-19

    Kampung Kapitan

    Di Seberang Ulu, keluarga kapitan Tionghoa membangun rumah-rumah kayu berbentuk limas yang memadukan tradisi Palembang dan Tiongkok. Kampungnya masih berdiri di 7 Ulu.

  3. 1904

    Kilang minyak Plaju

    Bataafsche Petroleum Maatschappij mendirikan kilang di Plaju, di pertemuan Sungai Komering dan Musi. Kilang Sungai Gerong milik perusahaan Amerika menyusul pada 1926, dan minyak menjadi urat nadi ekonomi kota.

  4. 1 April 1906

    Gemeente Palembang

    Palembang memperoleh status kota praja dengan dewan kota sendiri. Jalan darat mulai menggantikan sungai dan kanal sebagai urat nadi kota yang dulu dijuluki "Venesia dari Timur".

  5. 1931

    Menara air Kantor Ledeng

    Menara air untuk mengalirkan air bersih ke kota selesai dibangun. Bangunan yang kini menjadi Kantor Wali Kota Palembang ini tetap dikenal warga sebagai Kantor Ledeng.

Rumah limas atau kawasan Sekanak masa kolonial
Rumah limas, arsitektur bangsawan Palembang yang bertahan melewati masa kolonial.
05 1942 โ€“ 1950

Perang dan revolusi

Kilang minyaknya membuat Palembang menjadi sasaran pertama Jepang di Sumatra, dan setelah proklamasi, kota ini bertahan lima hari lima malam melawan Belanda.

  1. 14 Februari 1942

    Pasukan payung Jepang mendarat

    Penerjun Jepang turun di lapangan terbang Talang Betutu dan kilang Plajuโ€“Sungai Gerong. Dalam dua hari kota jatuh, dan minyak Palembang mengalir untuk mesin perang Jepang.

  2. Oktober 1945

    Merah putih di Palembang

    Berita proklamasi sampai ke Palembang dan Adnan Kapau Gani menjadi Residen Sumatera Selatan. Para pemuda mengambil alih kantor-kantor dari tangan Jepang.

  3. 1 โ€“ 5 Januari 1947

    Pertempuran Lima Hari Lima Malam

    Pasukan Republik bertempur melawan Belanda di jalan-jalan kota, dari 16 Ilir sampai Plaju. Gencatan senjata memaksa TRI mundur ke luar kota, tetapi perlawanan ini dikenang lewat Monumen Perjuangan Rakyat.

  4. 1948 โ€“ 1950

    Negara Sumatera Selatan

    Belanda membentuk Negara Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang. Pada Maret 1950 negara bagian itu dibubarkan dan bergabung kembali dengan Republik; Palembang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan.

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)
Monpera, tugu peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di depan Masjid Agung.
06 1950 โ€“ 2000

Jembatan di atas Musi

Kota yang berabad-abad dibelah sungai akhirnya dijembatani. Pupuk dan minyak menjadikan Palembang kota industri, dan Ampera menjadi ikon yang dikenal seluruh Indonesia.

  1. 24 Desember 1959

    Pupuk Sriwidjaja

    PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) didirikan dan membangun pabrik urea pertama Indonesia di bekas lokasi Keraton Kuto Gawang, tepat di tepi Musi.

  2. April 1962

    Jembatan Ampera mulai dibangun

    Dibiayai pampasan perang Jepang, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan bagian tengah yang bisa diangkat mulai dibangun oleh kontraktor Fuji Car Manufacturing.

  3. 30 September 1965

    Ampera diresmikan

    Jembatan yang semula bernama Jembatan Bung Karno diresmikan. Setelah 1966 namanya diganti menjadi Ampera โ€” Amanat Penderitaan Rakyat โ€” dan bagian tengahnya terakhir kali diangkat pada 1970.

  4. 1994

    Jembatan Musi II

    Jembatan kedua di atas Musi dibuka di sisi barat kota, mengalihkan lalu lintas lintas Sumatra dari pusat kota.

Jembatan Ampera
Jembatan Ampera, penghubung Seberang Ilir dan Seberang Ulu sejak 1965.
07 2004 โ€“ sekarang

Kota olahraga dan wisata

Dari Jakabaring yang dulu rawa, Palembang menjadi tuan rumah pesta olahraga nasional, Asia Tenggara, hingga Asia, dan kereta ringan pertama di Indonesia melintas di atas Musi.

  1. September 2004

    PON XVI

    Pekan Olahraga Nasional digelar di kompleks Jakabaring yang dibangun di atas lahan rawa Seberang Ulu โ€” awal dari Jakabaring Sport City.

  2. 2006

    Pagoda Pulau Kemaro

    Pagoda sembilan lantai dibangun di Pulau Kemaro, melengkapi klenteng Hok Tjing Rio dan legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah yang menjadikan pulau ini tujuan ziarah saat Cap Go Meh.

  3. 11 โ€“ 22 November 2011

    SEA Games XXVI

    Palembang menjadi tuan rumah bersama Jakarta. Upacara pembukaan digelar di Stadion Gelora Sriwijaya, dan Indonesia keluar sebagai juara umum.

  4. Juli 2018

    LRT Sumatera Selatan

    Kereta ringan pertama yang beroperasi di Indonesia melintas dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Jakabaring, menyeberangi Musi di samping Ampera.

  5. 18 Agustus โ€“ 2 September 2018

    Asian Games XVIII

    Bersama Jakarta, Palembang menjadi tuan rumah Asian Games โ€” pertama kalinya pesta olahraga Asia diselenggarakan di dua kota.

  6. 2019 โ€“ 2020

    Jembatan Musi IV dan Musi VI

    Dua jembatan baru dibuka untuk mengurangi beban Ampera, menghubungkan Seberang Ilir dan Seberang Ulu di sisi timur dan barat pusat kota.

Suasana tepian Musi masa kini
Stadion Gelora Jakabaring.

Setelah membaca, datangi

Lihat sendiri kotanya
lewat virtual tour.

Lihat semua destinasi