Di tengah aliran Sungai Musi, sekitar enam kilometer dari Jembatan Ampera, terdapat sebuah pulau kecil bernama Pulau Kemaro. Di antara lalu-lalang kapal dan kawasan industri di tepian sungai, pulau ini menghadirkan suasana yang berbeda melalui pepohonan, tempat ibadah, serta sebuah pagoda sembilan lantai yang menjulang dan menjadi salah satu penanda paling mudah dikenali dari kejauhan.
Pulau Kemaro juga memiliki jejak penting dalam sejarah Palembang. Pada masa Kerajaan dan Kesultanan Palembang, kawasan ini pernah menjadi bagian dari sistem pertahanan di Sungai Musi. Dalam konflik melawan VOC pada 1659 dan pertempuran melawan armada Belanda pada 1819, perairan di sekitar Pulau Kemaro menjadi salah satu titik strategis pertahanan Palembang. Pulau tersebut baru dapat dikuasai Belanda pada 1821 dalam rangkaian peperangan melawan Kesultanan Palembang Darussalam.
Namun kisah yang paling melekat pada Pulau Kemaro adalah legenda cinta antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Dalam salah satu versi cerita yang diwariskan masyarakat, Tan Bun An adalah seorang pemuda Tionghoa yang jatuh cinta kepada Siti Fatimah, putri Palembang. Kesalahpahaman mengenai hadiah emas yang disembunyikan di dalam guci kemudian berakhir tragis ketika Tan Bun An terjun ke Sungai Musi, disusul Siti Fatimah. Legenda menyebut daratan yang kemudian muncul di tempat tersebut sebagai Pulau Kemaro, menjadi simbol kisah cinta keduanya.
Jejak budaya Tionghoa terasa kuat di berbagai sudut pulau. Kelenteng, makam yang dikaitkan dengan Tan Bun An dan Siti Fatimah, serta pagoda dengan warna merah dan detail arsitektur khas Tionghoa menjadikan Pulau Kemaro salah satu tujuan wisata religi dan budaya penting di Palembang. Setiap perayaan Cap Go Meh, kawasan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya yang didatangi masyarakat dari Palembang maupun berbagai daerah lainnya.
Menyeberangi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro bukan hanya perjalanan menuju sebuah pulau kecil. Di tempat ini, sejarah Kesultanan Palembang, tradisi masyarakat Tionghoa, kehidupan sungai, dan sebuah legenda cinta bertemu dalam ruang yang sama. Dengan pagoda yang menjulang di antara pepohonan dan Sungai Musi yang terus mengalir di sekelilingnya, Pulau Kemaro menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan betapa beragamnya lapisan sejarah dan budaya Kota Palembang.