Di tepian utara Sungai Musi, kawasan **Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya** menyimpan jejak salah satu peradaban maritim terbesar di Asia Tenggara. Kawasan ini juga dikenal sebagai **Situs Karanganyar** atau **Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya**, sebuah situs arkeologi yang memperlihatkan bahwa daerah Palembang telah menjadi pusat aktivitas manusia sejak masa kejayaan Sriwijaya, terutama sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13.
Keistimewaan kawasan Karanganyar bukan terletak pada bangunan candi yang menjulang, melainkan pada lanskapnya. Penelitian dan pengamatan dari udara menemukan adanya **jaringan kanal, parit, kolam, serta pulau-pulau buatan** yang tersusun secara teratur. Struktur tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat masa lalu dalam mengelola kawasan lahan basah, air, dan permukiman. Temuan ini juga memperkuat dugaan bahwa kawasan di sekitar Sungai Musi merupakan bagian penting dari pusat kehidupan Sriwijaya.
Berbagai penggalian arkeologi di kawasan ini menemukan pecahan tembikar dan keramik asing, manik-manik, sisa struktur bata, serta peninggalan perahu kuno. Sebagian keramik berasal dari berbagai dinasti di Tiongkok, memperlihatkan hubungan perdagangan internasional yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Temuan-temuan tersebut menjadi gambaran tentang kehidupan sebuah kota sungai yang terhubung dengan jalur perdagangan regional dan internasional.
Untuk melestarikan kawasan bersejarah tersebut, Situs Karanganyar kemudian ditata menjadi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya dan diresmikan pada **22 Desember 1994**. Di dalam kawasan terdapat **Museum Sriwijaya**, pendopo, replika prasasti, koleksi arca, artefak, serta berbagai informasi mengenai perjalanan Sriwijaya. Salah satu elemen pentingnya adalah replika **Prasasti Kedukan Bukit**, yang mencatat perjalanan suci *siddhayatra* Dapunta Hyang dan menjadi salah satu sumber utama dalam memahami awal perkembangan Sriwijaya.
Berjalan di kawasan Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya membawa pengunjung pada cara yang berbeda dalam melihat sebuah kerajaan besar. Tidak banyak bangunan monumental yang masih berdiri, tetapi jejaknya tersimpan dalam aliran kanal, lapisan tanah, fragmen keramik, artefak, dan bentang Sungai Musi di sekitarnya. **Di tempat inilah gambaran Sriwijaya sebagai peradaban sungai dan kerajaan maritim perlahan dapat disusun kembali dari peninggalan yang tersisa.**