Di tepian Sungai Musi, kawasan 7 Ulu Palembang, terdapat sebuah permukiman tua yang menjadi salah satu jejak penting keberadaan masyarakat Tionghoa di kota ini. Kampung Kapitan berkembang di kawasan Seberang Ulu, berhadapan dengan pusat pemerintahan lama Palembang di seberang sungai. Letaknya menunjukkan betapa pentingnya Sungai Musi sebagai jalur perdagangan, transportasi, sekaligus ruang pertemuan berbagai kebudayaan yang membentuk Palembang selama berabad-abad.
Sejarah Kampung Kapitan berkaitan erat dengan kebijakan pemerintahan kolonial setelah berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam. Pada 1830, Tjoa Kie Tjuan diangkat sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa dengan pangkat mayor, bertugas menjadi penghubung antara komunitas Tionghoa dan pemerintah kolonial dalam urusan administrasi, kependudukan, serta perpajakan. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Tjo Ham Hin, yang menyandang pangkat kapitan. Dari gelar inilah nama Kampung Kapitan kemudian melekat pada kawasan tersebut.
Keistimewaan Kampung Kapitan terlihat jelas pada arsitektur rumah-rumah tuanya. Kawasan ini memiliki sekitar 15 rumah panggung yang memperlihatkan perpaduan unsur Tionghoa, Palembang, dan Eropa. Rumah utama Kapitan memiliki bentuk panggung dengan atap yang mengingatkan pada rumah tradisional Palembang, sementara tata ruang, altar leluhur, ornamen, pintu, dan sejumlah elemen dekoratifnya menunjukkan pengaruh budaya Tionghoa. Unsur kolonial Eropa juga terlihat pada penggunaan pilar, teras, serta beberapa detail bangunan.
Di masa lalu, kawasan ini berada di lingkungan perdagangan yang sangat aktif. Sungai Musi menjadi jalan utama bagi kapal dan perahu yang membawa barang serta pedagang dari berbagai daerah. Rumah Kapitan tidak hanya menjadi kediaman keluarga, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan administratif bagi komunitas Tionghoa Palembang. Hingga kini, sebagian keturunan keluarga pendiri masih menetap di kawasan tersebut, membuat Kampung Kapitan bukan sekadar situs sejarah yang ditinggalkan, melainkan sebuah lingkungan budaya yang masih hidup.
Berjalan di antara rumah-rumah tua Kampung Kapitan seperti memasuki salah satu lapisan sejarah Palembang yang tumbuh bersama Sungai Musi. Lantai kayu, rumah panggung, altar keluarga, ornamen Tionghoa, dan bentuk arsitektur Palembang bertemu dalam satu kawasan, menjadi bukti bagaimana masyarakat dengan latar belakang berbeda hidup, berdagang, dan saling memengaruhi selama beberapa generasi. Kampung Kapitan pada akhirnya bukan hanya cerita tentang komunitas Tionghoa, tetapi juga tentang akulturasi yang ikut membentuk identitas Kota Palembang.